STORIES > BELANDA > ROTTERDAM > ARTICLE
ROTTERDAM: BURUNG PHOENIX DARI SUNGAI MAAS
Sebuah perjalanan personal menyusuri Rotterdam, kota yang mengubah reruntuhan perang menjadi lanskap arsitektur yang berani. Dari Brandgrens hingga Sungai Maas, jejak sejarah yang masih bertahan, semangat kreatif, dan hasrat untuk terus bertransformasi memperlihatkan sebuah kota yang memilih untuk bergerak maju, bukan menoleh ke belakang.
Pertama kali mengunjungi Rotterdam, saya mencari sesuatu yang keliru.
Seperti kebanyakan wisatawan, saya jatuh cinta dengan Belanda melalui rumah-rumah di Amsterdam dengan gevel yang miring, melalui kecantikan seperti kartu pos yang membuat kita ingin memperlambat langkah di sebuah jembatan kanal hanya untuk memandangnya sedikit lebih lama. Jadi ketika Edwin, pacar saya yang orang Belanda, membawa saya ke Rotterdam dengan mobil dari Krimpen aan den IJssel, saya mengira akan menemukan sesuatu yang serupa. Namun yang muncul di hadapan kami justru cakrawala kota yang berbeda — menara-menara kaca, boulevard abu-abu yang lebar, siluet kota yang seolah dirancang oleh seseorang yang sepertinya tidak tertarik mengikuti pakem Belanda. Saya bertanya, setengah tertawa, ke mana semua bangunan tua itu menghilang.
“Tidak banyak,” katanya. “Memang itu intinya.”
Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk memahami maksudnya, bahwa pada 14 Mei 1940, pesawat-pesawat pengebom Jerman menghancurkan sebagian besar pusat kota bersejarah Rotterdam hingga menjadi puing-puing. Datang dari Yogyakarta, saya mengenal sebuah kota yang juga membawa masa lalunya melalui lapisan kehilangan dan penemuan kembali. Gempa bumi, perang, perubahan zaman, serta pertumbuhan kota telah menghapus sebagian dari apa yang pernah ada, sementara rumah-rumah, bisnis, dan lingkungan baru perlahan tumbuh di atas atau di sekitar ruang-ruang yang ditinggalkan oleh masa lalu. Hasilnya bisa indah, tetapi juga bisa terasa berantakan dan organik — sejarah, kehidupan sehari-hari, dan pembangunan baru terus bernegosiasi untuk mendapatkan ruang. Rotterdam juga membangun kota baru di atas reruntuhan kota lama, tetapi di sini perubahan itu dilakukan secara sengaja: ruang-ruang kosong bekas area yang dibom menjadi bagian dari rencana tata kota secara sadar, dan bangunan-bangunan tak biasa yang kemudian muncul menjadi ekspresi sebuah kota yang dengan sengaja bereksperimen dengan kemungkinan-kemungkinan yang membentuk identitas baru.
Api yang mengubah kota

Pesawat bomber Nazi
Edwin menunjukkan garis api itu kepada saya sebelum memperlihatkan bangunan-bangunan terkenalnya — serangkaian penanda kecil yang tertanam di trotoar, mudah terlewatkan kecuali ada seseorang yang menunjukkannya. Ia berhenti di tengah kalimat dan menginjak salah satunya.
“Di sinilah apinya berhenti,” katanya.
Brandgrens, atau Batas Api, menandai garis batas kawasan yang hancur pada tahun 1940. Jejak ini ditandai dengan deretan ikon bercahaya merah yang tertanam langsung di trotoar dan membentuk garis yang menyambung tanpa putus. Peristiwa dahsyat itu menewaskan sedikitnya 800 orang dan menyebabkan sekitar 80.000 orang kehilangan tempat tinggal. Seluruh lingkungan—toko bakery, gereja, pertokoan, dan bangunan-bangunan biasa yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari lenyap begitu saja. Berdiri tepat di atas garis itu memberi pemahaman yang berbeda dibandingkan sekadar membacanya.

Brandgrens, batas api menandai kawasan terdampak bom
Apa yang terjadi setelahnya adalah bagian yang tidak banyak diduga oleh kebanyakan orang. Alih-alih membangun kembali labirin jalan abad pertengahan yang lama, para ahli tata kota mengembangkan Basisplan dan memilih sesuatu yang jauh lebih radikal: cahaya, udara, jalan-jalan yang lebar, serta sebuah awal baru yang tidak berusaha mengembalikan apa yang telah terbakar. Edwin menyimpan sebuah rak berisi buku-buku tentang Rotterdam di rumahnya — kumpulan foto-foto lama bernuansa sepia berdampingan dengan monograf arsitektur modern yang mengilap — dan membolak-balik halamannya terasa seperti melihat 258 hektare lahan yang sama berubah pikiran dua kali: pertama menjadi puing-puing, kemudian dibangun kembali menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru.
Arsitektur ketangguhan

Gereja Santo Lawrence berdiri di antara reruntuhan
Tidak semuanya lenyap, dan bangunan-bangunan yang selamat membawa beban makna yang berbeda karenanya.
Laurenskerk, St. Lawrence church, sebuah gereja abad pertengahan yang mengalami kerusakan parah dalam pengeboman, dipugar sedikit demi sedikit selama beberapa dekade berikutnya. Berdiri di sampingnya sekarang, dikelilingi arsitektur yang tidak mungkin ada sebelum perang, gereja itu terasa bukan lagi sekadar sebuah gereja, melainkan saksi sejarah. Seperti satu wajah tua di tengah ruangan yang dipenuhi kaca. Balai Kota Rotterdam juga selamat, meskipun mengalami kerusakan. Bangunan tua ini kini tampak kontras dengan bangunan-bangunan di sekitarnya.
Membangun kosakata baru

Cube Houses
Apa yang muncul kemudian adalah sebuah kota baru yang perlahan menemukan kosakatanya sendiri, satu bangunan demi satu bangunan.
Lijnbaan, yang dibuka pada 1953, merupakan salah satu kawasan perbelanjaan pejalan kaki sepenuhnya yang pertama ada di Eropa, sebuah gagasan yang begitu baru sehingga kota-kota lain mengirim para perencana kota mereka untuk mempelajarinya. Lijnbaan menetapkan karakter yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan Rotterdam: mencoba sesuatu yang baru, dan memikirkan preseden belakangan. Naluri itulah yang kemudian melahirkan Cube Houses, rumah-rumah kuning terang karya Piet Blom yang dimiringkan pada sudut 45 derajat di atas jalan, yang tidak tampak seperti kompleks hunian dengan arsitektur konvensional, melainkan lebih seperti dadu-dadu raksasa yang bergulir setengah jalan dan berhenti, lalu orang-orang memutuskan tinggal di dalamnya.
Naluri yang sama melahirkan Markthal, dengan langit-langit berhias mural yang melengkung di atas kios-kios pasar seperti katedral dalam ruangan raksasa. Begitu pula dengan Erasmus Bridge, dengan satu tiang asimetris yang menjulang di atas sungai Maas dan menghubungkan dua sisi kota yang tampaknya senang berdebat dengan dirinya sendiri.
Tidak ada satu “gaya Rotterdam”, dan semakin lama saya menghabiskan waktu di sana, semakin saya merasa bahwa memang itulah intinya. Seorang arsitek OMA pernah menggambarkan kota ini dengan penuh sayang sebagai “the mess that is Rotterdam”, sebuah kekacauan yang sangat khas Rotterdam. Sebuah kota yang menolak menetap dalam satu identitas, dan memberi ruang bagi setiap generasi untuk meninggalkan jejaknya sendiri, tanpa harus menyerupai generasi sebelumnya.

Market Hall
Melihat dari langit dan dari air

Euromast
Rotterdam lebih mudah dipahami setelah kita melihatnya dari ketinggian di langit dan di sepanjang sungainya, dan Edwin membawa saya ke keduanya.
Euromast memberi saya pemandangan pertama yang membuat seluruh tata kota Rotterdam terasa masuk akal — menara-menara, pelabuhan, dan sungai Maas yang membelah kota menjadi dua. Tur perahu Spido menyusuri pelabuhan yang masih aktif memberikan pemahaman serupa dari atas air, mengubah gagasan abstrak tentang salah satu pelabuhan tersibuk di Eropa menjadi pemandangan derek-derek raksasa dan kapal-kapal kontainer yang begitu besar, sehingga semua tampak hampir surealis.

Oude Haven, pelabuhan lama
Kembali ke daratan, Oude Haven memperlihatkan sisi lain hubungan Rotterdam dengan perubahan. Kapal-kapal layar tua kini tertambat di samping bar dan restoran, bukan gudang-gudang seperti dahulu, menjadi pengingat bagaimana kota ini memberi kehidupan baru untuk tempat-tempat lama. Di dekatnya, Maritime Museum menelusuri sejarah pelabuhan, sementara lebih jauh lagi, di Museumpark, Depot Boijmans Van Beuningen — bangunan berbentuk mangkuk cermin yang unik dan merupakan depot penyimpanan karya seni pertama di dunia yang dapat diakses publik — memantulkan cakrawala kota di sekelilingnya dalam fragmen-fragmen melengkung.
Kota yang bisa dicicipi

Babi panggang dengan citarasa manis gaya Belanda
Disorientasi yang paling aneh sekaligus menyenangkan justru datang dari meja makan. Edwin membawa saya ke beberapa restoran Chinese-Indisch di kota itu — sebuah perpaduan kuliner khas Belanda yang terbentuk oleh puluhan tahun migrasi dan sejarah kolonial, ketika teknik memasak Tionghoa bertemu cita rasa Indonesia dan kemudian diolah melalui dapur Belanda.
Bagi orang Indonesia, menemukan masakan ini di Rotterdam bisa terasa seperti bertemu sesuatu yang akrab tetapi telah melakukan perjalanan sangat jauh dan berubah di sepanjang perjalanan. Hidangan seperti babi pangang dan foe yong hai jelas memiliki hubungan dengan tradisi kuliner Indonesia dan Tionghoa, tetapi interpretasinya yang lebih manis, lebih kaya, dan khas Dutch-Indisch dapat terasa sangat berbeda dari apa yang mungkin kita temui di Indonesia. Hasilnya bukan sepenuhnya Indonesia dan bukan pula sepenuhnya Belanda, melainkan sesuatu yang telah berkembang menjadi identitasnya sendiri.
Rasanya seperti versi kecil yang bisa dimakan dari apa yang dilakukan Rotterdam terhadap arsitekturnya — mengambil potongan-potongan yang familiar dari berbagai tempat lalu membangunnya kembali menjadi sesuatu yang sepenuhnya berbeda.
Malam hari menambahkan lapisan lain. Kafe-kafe kecil berubah menjadi bar, dan jalan-jalan di sekitar pusat kota terasa muda dan gelisah, seolah kota ini masih terus menentukan ingin menjadi seperti apa.
Tempat untuk Berjalan dan Berimajinasi
Tidak setiap kunjungan saya ke Rotterdam dilakukan bersama Edwin. Ada beberapa perjalanan yang saya lakukan sendiri dari Krimpen aan den IJssel dengan naik Waterbus, menyeberangi sungai Maas menuju pusat kota Rotterdam. Kali ini, saya tidak memiliki daftar tempat yang harus dikunjungi. Saya datang untuk bertemu dua teman seniman, dan kota itu menjadi latar bagi sebuah hari yang sangat berbeda.
Salah satu teman saya, seorang animator yang juga pemain teater dan tari; yang satu lagi adalah seniman multimedia. Kami tidak memiliki tujuan tertentu. Kadang-kadang kami hanya duduk di tepi sungai, melihat perahu-perahu lewat sambil membicarakan proyek-proyek dan ide-ide yang mungkin suatu hari bisa kami kerjakan bersama. Di waktu lain, kami berjalan masuk ke museum atau pameran terdekat hanya karena ada sesuatu yang menarik perhatian kami.

Depot Boijmans, depot penyimpanan karya seni yang bisa diakses publik
Ada sesuatu dari Rotterdam yang terasa mendorong percakapan-percakapan semacam itu. Arsitekturnya yang berani, sisi-sisi industrialnya, dan lanskap kotanya yang terus berubah memberi kami banyak hal untuk dilihat dan dibicarakan. Kami tidak datang untuk mencentang daftar tempat wisata; kami datang untuk bertukar ide, membayangkan berbagai kemungkinan, dan menikmati energi kreatif kota itu. Pada saat-saat seperti itu, Rotterdam terasa bukan seperti sebuah destinasi, melainkan sebuah studio terbuka — tempat gagasan dapat mengembara sebebas kami.

Fenix Museum, museum tentang migrasi
Pulang, dengan Sepeda dan Air
Salah satu perjalanan pulang yang paling saya sukai adalah dengan Waterbus, melihat Rotterdam perlahan menjauh ketika saya kembali menuju Krimpen aan den IJssel. Menara-menara semakin kecil, cakrawala kota semakin lembut, dan sungai perlahan terbuka menuju perairan yang lebih tenang. Penyeberangannya singkat, tetapi selalu terasa seperti proses melepas kepenatan — dari kebaruan pusat kota yang sengaja direkayasa menuju sesuatu yang lebih kecil dan lebih biasa.
Saya tidak tumbuh di sini, dan saya tidak akan pernah memiliki naluri seorang penduduk lokal untuk mengetahui jalan mana yang dulu merupakan reruntuhan dan mana yang selamat dari perang. Namun saya sudah cukup sering melewati batas api Brandgrens, di berbagai musim dan dengan cara yang berbeda-beda, sehingga saya mulai merasakan batas itu sendiri — bukan sebagai wisatawan yang sedang membaca sebuah plakat, tetapi sebagai seseorang yang perlahan memahami betapa dalam masa lalu tertanam di dalam kota ini, dan bagaimana Rotterdam dengan sengaja memilih apa yang ingin dibawanya ke masa depan.
Rotterdam tidak pernah berusaha berpura-pura bahwa kota ini tidak pernah hancur. Ia hanya memutuskan bahwa kehancuran itu tidak akan menjadi akhir dari ceritanya.
KONTRIBUTOR / PENULIS CERITA
DETI LUCARA
WWC-26-000010Yogyakarta, Indonesia
Travel writer and founder of Where We Crossed, documenting places, people, and stories through slow travel.
KOMENTAR & DISKUSI
0 KomentarINGIN BERGABUNG DALAM DISKUSI?
Masuk dengan akun member Anda untuk menulis tanggapan pada arsip sejarah ini.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama membagikan refleksi Anda.