STORIES > BELANDA > ROTTERDAM > ARTICLE
KATENDRECHT: LINGKUNGAN YANG TERSEMBUNYI DI DEPAN MATA
Dahulu merupakan lingkungan para pelaut yang keras dan kasar di Rotterdam, Katendrecht kemudian menjadi rumah bagi para migran Tionghoa, musisi jazz, dan orang-orang yang mencari perlindungan selama perang. Sisi-sisi sejarah itu kini masih tersimpan di balik wajah baru kawasan yang semakin modern dan tertata.

Semenanjung Katendrecht | Sumber: Arsip kota Rotterdam
Pertama kali saya benar-benar mulai memperhatikan Katendrecht, ketika saya berada di dalam museum Fenix, dikelilingi kisah-kisah tentang orang-orang yang meninggalkan satu tempat dan tiba di tempat lain. Bangunan itu sendiri seolah membawa gagasan tersebut: sebuah gudang pelabuhan tua yang diubah menjadi museum tentang migrasi, dengan Sungai Maas terbentang di luarnya dan Rotterdam berdiri di seberang air.
Saya datang untuk melihat pameran, tetapi yang tertinggal dalam ingatan saya adalah perasaan bahwa bagian kota ini sejak awal memang selalu berkisah tentang orang-orang yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Kemudian, di Verhalenhuis Belvédère, kisah itu terasa lebih dekat dan personal. Bangunan tua ini dipenuhi foto, sejarah keluarga, dan benda-benda yang berkaitan dengan masa lalu Katendrecht. Di sana saya menemukan kisah David Zee, yang keluarganya merupakan bagian dari komunitas Tionghoa yang telah berakar di kawasan ini lebih dari satu abad lalu.

Verhalenhuis Belvédère
Hari ini, semenanjung Katendrecht terasa kreatif, tertata dan semakin dipenuhi hunian. Restoran memenuhi bangunan-bangunan pelabuhan lama, gedung-gedung baru tumbuh di antara gudang bersejarah, dan Fenix menjadi salah satu landmark budaya baru Rotterdam. Namun di balik permukaan modern itu terdapat sejarah yang jauh lebih keras: para pelaut yang turun ke darat, para migran Tionghoa yang membangun kehidupan jauh dari tanah asal, kafe dan ruang dansa, rumah perjudian dan prostitusi, serta ruangan-ruangan di dalam rumah kos tempat orang mengisap opium.
Mudah untuk menjadikan sarang-sarang opium sebagai bagian paling misterius dari cerita Katendrecht. Namun semakin saya mempelajarinya, semakin saya merasa bahwa opium hanyalah satu lapisan dari kisah yang jauh lebih besar tentang migrasi, bertahan hidup, rasa memiliki, dan di masa Perang Dunia II kawasan ini menjadi semacam tempat perlindungan yang tidak pernah direncanakan.
De Kaap di ujung kota
Katendrecht dulunya adalah sebuah desa polder yang tenang. Perubahannya dimulai ketika Rotterdam mencaplok wilayah ini pada akhir abad ke-19, ketika pelabuhan yang terus berkembang membutuhkan lebih banyak lahan. Rijnhaven dan Maashaven kemudian digali di sekelilingnya, mengubah Katendrecht menjadi sebuah semenanjung yang dikelilingi perairan pelabuhan. Julukan De Kaap—Sang Tanjung—terasa cocok dengan bentuk geografis barunya.
Kemudian datanglah para pelaut.

Para pelaut di Katendrecht | Sumber: Arsip kota Rotterdam
Pada 1911, ketika terjadi pemogokan besar para pelaut di Rotterdam dan Amsterdam, perusahaan-perusahaan pelayaran mendatangkan pekerja Tionghoa dari Inggris untuk mengatasi aksi mogok tersebut. Semakin banyak pelaut Tionghoa kemudian datang, dan Katendrecht menjadi tempat tinggal mereka ketika menunggu kapal atau mencari pekerjaan.

Jalan Aceh, Katendrecht | Sumber: Arsip kota Rotterdam
Rumah-rumah kos bermunculan di sepanjang jalan seperti Delistraat, disusul toko, restoran, dan tempat-tempat berkumpul. Pada 1920-an, Katendrecht telah berkembang menjadi Chinatown pertama di Eropa, dengan jaringan usaha yang melayani komunitas pelaut.
Kondisinya jauh dari nyaman. Banyak pelaut Tionghoa tinggal di rumah kos murah yang padat, di sebuah kawasan yang sejak awal sudah dikenal sebagai tempat para pekerja sementara dan kehidupan malam. Ketika krisis ekonomi melanda pada 1930-an, banyak di antara mereka kehilangan pekerjaan dan hanya memiliki sedikit dukungan.
David Zee telah menghabiskan bertahun-tahun merekonstruksi sejarah ini melalui kisah keluarganya sendiri. Kakeknya termasuk di antara para pelaut Tionghoa awal yang menetap di Katendrecht, dan Zee tumbuh di kawasan ini pada 1960-an. Dalam sebuah wawancara, ia menggambarkan sejarah komunitas Tionghoa sebagai sebuah sejarah yang “cukup mengejutkan”, terutama karena begitu sedikit orang di luar komunitas tersebut yang mengetahuinya.
Kisah keluarganya membuat sejarah itu terasa lebih sulit untuk diabaikan.
Rumah-rumah kos
Rumah kos Tionghoa bukan sekadar tempat untuk tidur. Bagi para pelaut yang datang dari luar negeri, tempat-tempat itu menyediakan ruang untuk tinggal di antara pelayaran. Di sekelilingnya kemudian tumbuh toko, restoran, rumah judi, dan tempat berkumpul.
Restoran Tionghoa pertama di Belanda, Chong Kok Low, dibuka di Katendrecht pada 1922.

Chong Kok Low, restoran Cina pertama di Rotterdam | Sumber: Arsip kota Rotterdam
Keluarga David Zee sangat terkait dengan dunia ini. Kakeknya bekerja di dapur Chong Kok Low dan kemudian menikahi seorang perempuan Belanda, Neeltje Kraaijeveld. Hubungan mereka menimbulkan skandal dalam masyarakat yang saat itu masih memandang perkawinan antar-ras dengan penuh kecurigaan. Pemerintah Belanda kemudian mencabut kewarganegaraan Belanda milik nenek Zee, sementara anak-anak mereka didaftarkan sebagai warga negara Tionghoa meskipun lahir di Rotterdam.

Keluarga Zee sedang bermain mahjong di Verlaan 48. Dari kiri: David; pamannya, Cornelis “Chinese Kees” Zee; kakeknya, Ah Say (nama panggilannya); dan bibinya, Diana. 1947 | Sumber: asiansraisins.nl
Sulit menyatukan sejarah tersebut dengan Rotterdam yang multikultural seperti yang kita kenal sekarang. Namun keberagaman Katendrecht tidak lahir dari sebuah kebijakan yang dirancang dari atas. Ia tumbuh dari orang-orang yang datang karena pelabuhan membutuhkan mereka, bertahan karena menemukan pekerjaan atau komunitas, lalu perlahan membangun tempat bagi diri mereka sendiri.
Ketika opium menjadi bagian dari cerita
Lalu ada sarang-sarang opium.
Istilah itu segera memunculkan gambaran tertentu: ruangan gelap, asap yang menggantung di udara, para pelaut menghilang melalui tangga-tangga sempit. Kenyataannya lebih rumit.
Penggunaan opium memang terjadi di rumah-rumah kos Tionghoa, terutama di ruangan bawah tanah, dan sebagian pelaut menjadi kecanduan ketika menghadapi kondisi hidup yang keras. Sebuah lukisan karya seniman Rotterdam, Dolf Henkes, dari 1938 menggambarkan dunia ini. Sebuah pipa opium yang disita polisi Rotterdam di Katendrecht pada 1930 juga menjadi pengingat nyata bahwa tempat-tempat tersebut bukan sekadar legenda yang muncul belakangan.

Unit polisi opium, sekitar tahun 1938 | Sumber: Arsip kota Rotterdam
Hubungan pemerintah Belanda dengan opium sendiri juga rumit. Penggunaan rekreasional dilarang sejak 1919, tetapi penerapannya di komunitas Tionghoa tidak konsisten. Rotterdam membentuk unit kecil polisi khusus opium pada 1928, namun dalam praktiknya penggunaan opium kadang ditoleransi karena penegakan hukum terhadap setiap pengguna bisa berarti menangkap sebagian besar populasi Tionghoa di kawasan tersebut.
Di sinilah mitos tentang “sarang opium” bisa menyesatkan. Tempat-tempat itu memang ada, tetapi mereka hidup di dalam dunia yang jauh lebih besar: migrasi, pekerjaan, dan perjuangan untuk bertahan hidup. Sebuah rumah kos bisa memiliki kamar tidur, toko, ruang judi, dan ruang untuk mengisap opium dalam satu bangunan yang sama.
Reputasi Katendrecht sudah rumit sejak awal. Situasi perang membuatnya menjadi lebih rumit lagi.
Tempat perlindungan tak terduga
Selama pendudukan Nazi Jerman, Katendrecht memperoleh identitas lain.
Wehrmacht dilarang memasuki semenanjung ini. Alasannya berakar pada kekhawatiran militer Jerman mengenai prostitusi dan penyakit kelamin, sekaligus kebijakan rasial Nazi. Para tentara Jerman dilarang memasuki kawasan tempat prostitusi terkonsentrasi, dan papan-papan penanda dipasang untuk menandai semenanjung tersebut sebagai wilayah terlarang.
Akibatnya tidak terduga.
Di sebuah kota yang berada di bawah pendudukan dan pengawasan Jerman, Katendrecht menjadi tempat yang relatif lebih aman.
Bukan berarti kawasan ini sepenuhnya aman. Aparat Jerman tetap melakukan pemeriksaan dan orang-orang tetap dapat ditangkap. Namun absennya kehadiran rutin Wehrmacht menciptakan tingkat kebebasan yang tidak biasa di Rotterdam selama masa perang.
Para musisi jazz menemukan ruang untuk bernapas di sini. Jazz telah dilarang oleh Nazi, tetapi di Belvédère, Katendrecht, musisi seperti Kid Dynamite, Teddy Cotton, dan Boy Edgar tetap tampil. Klub tersebut menjadi semacam kantong kebebasan musik yang luar biasa di tengah masa pendudukan.

Kid Dynamite | Sumber: Nederlands Jazz Archive
Perlindungan yang diberikan Katendrecht itu tidak berlangsung selamanya. Pada 1943, Teddy Cotton diserang dalam sebuah razia Jerman dan kemudian dilarang bermain. Pada akhir tahun itu, Belvédère ditutup. Namun musik hanyalah sebagian dari ceritanya.
Warga Yahudi dan orang-orang yang bersembunyi juga menemukan bahwa Katendrecht relatif berguna karena tentara Jerman umumnya tidak diperbolehkan memasuki kawasan tersebut. Catatan sejarah menunjukkan bahwa keluarga-keluarga Yahudi tinggal di sana pada tahun-tahun awal pendudukan, sementara absennya sebagian besar tentara Jerman membuat kawasan ini lebih sulit dikontrol, tidak seperti kawasan lain di Rotterdam.
Di Belvédère, ceritanya menjadi lebih luar biasa lagi. Seniman Rotterdam Wally Elenbaas dan istrinya yang keturunan Yahudi, fotografer Esther Hartog, tinggal di bangunan tersebut dan aktif dalam gerakan perlawanan. Bangunan itu juga digunakan untuk menyembunyikan anak-anak Yahudi selama perang.
Kawasan yang dikenal karena para pelaut, prostitusi, dan opium ini akhirnya menjadi tempat di mana musik terlarang dapat bertahan, kegiatan perlawanan berlangsung, dan orang-orang yang dianiaya Nazi terkadang menemukan tempat berlindung.
Inilah salah satu ironi terbesar Katendrecht.
Reputasi yang membuat kawasan tersebut tidak menarik bagi para tentara Jerman justru membantu menjadikannya bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan tempat untuk bersembunyi.
Lingkungan yang penuh kontradiksi
Mungkin inilah karakter Katendrecht yang paling menonjol sejak awal.
Ia adalah kawasan Tionghoa, tetapi juga Belanda. Kawasan kelas pekerja, distrik para pelaut, kawasan prostitusi, tempat migrasi, hiburan, dan kecanduan. Selama pendudukan, ia menjadi tempat perlindungan yang relatif aman hampir secara kebetulan.
David Zee mengingat sisi lain dari kawasan ini.
Ketika berbicara tentang masa kecilnya, ia mengenang anak-anak dari berbagai latar belakang yang bermain bersama dan dengan mudah berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. “Bagi kami, setiap orang sejajar” katanya, menggambarkan rasa kebersamaan yang ia alami ketika tumbuh besar di Katendrecht.

Sumber: Koleksi David Zee
Kalimat itu melekat pada saya karena membuat gambaran tentang Kaap yang berbahaya menjadi lebih rumit. Orang-orang dewasa mungkin menghadapi kemiskinan, prasangka, prostitusi, perjudian, dan kecanduan. Namun bagi anak-anak, mereka sekedar tumbuh bersama.
Sejarah jarang cocok dengan label-label sederhana yang kita berikan kepada sebuah lingkungan.
Berjalan Menyusuri Katendrecht Hari Ini
Setelah mengunjungi Fenix dan Verhalenhuis Belvédère, saya mendapati diri saya mencari tempat-tempat yang tidak lagi mengumumkan sejarahnya.
Tidak ada papan besar yang mengatakan, Di sinilah dulu sebuah sarang opium berada.
Dunia lama itu sebagian besar telah menghilang di bawah kafe, restoran, apartemen, dan ruang-ruang budaya. Delistraat masih ada, tetapi rumah-rumah kos dan bisnis yang dahulu memenuhi jalan itu sebagian besar telah lenyap.
Yang tersisa adalah tata jalan, beberapa bangunan lama, foto, cerita, dan pengetahuan bahwa fasad-fasad yang tampak biasa itu dahulu menyimpan sebuah dunia tersendiri.
Itulah sebabnya Verhalenhuis Belvédère terasa begitu penting. Alih-alih menjadikan masa lalu Katendrecht sebagai tontonan, tempat ini memberi ruang bagi orang-orang untuk menceritakannya. Foto-foto keluarga David Zee mengubah tema besar seperti migrasi Tionghoa di Rotterdam menjadi sesuatu yang terasa nyata: seorang kakek, seorang ayah, sebuah keluarga, dan sebuah lingkungan.
Fenix melakukan hal serupa dalam skala yang lebih besar. Kisah-kisah migrasi di dalamnya menghubungkan Katendrecht dengan dunia yang lebih luas, mengingatkan kita bahwa sejarah Rotterdam selalu dibentuk oleh orang-orang yang datang dari tempat lain.
Namun perubahan Katendrecht juga menimbulkan pertanyaan yang mungkin sulit dijawab: Apa yang terjadi pada cerita-cerita lama ketika sebuah lingkungan menjadi tempat yang semakin modern?
Hantu di bawah wajah Katendrecht yang baru
Berjalan menyusuri Katendrecht hari ini, saya justru memperhatikan betapa semuanya tampak sangat biasa. Delistraat masih ada, tetapi rumah kos, kafe, dan bisnis lama sebagian besar telah menghilang. Sebagai gantinya kini berdiri restoran, apartemen, dan bangunan pelabuhan yang direnovasi.
Kontras itu terus terlintas dalam pikiran ketika saya berjalan kembali menuju sungai Maas. Sebuah lingkungan bisa berubah hampir sepenuhnya dan tetap menyimpan jejak orang-orang yang pernah hidup di dalamnya. Kadang yang tersisa hanyalah nama jalan, sebuah foto lama, sebuah bangunan, atau sebuah cerita yang diputuskan seseorang untuk tetap diingat.
Bagi saya, itulah yang membuat Katendrecht layak dijelajahi lebih jauh daripada sekadar reputasinya sebagai kawasan para pelaut atau tempat sarang-sarang opium. Sejarahnya tidak tersimpan dalam satu monumen besar. Ia bertahan dalam potongan-potongan kecil yang tersebar di seluruh semenanjung.

David Zee dengan background foto keluarganya di Verhalenhuis Belvédère | Sumber: Verhalenhuis Belvédère
Di Fenix, potongan-potongan itu menjadi kisah migrasi. Di Verhalenhuis Belvédère, ia berubah menjadi kenangan keluarga. Di sepanjang jalan-jalan lama De Kaap, jejaknya menjadi jauh lebih sulit dilihat.
Mungkin itu sebabnya kawasan ini terus melekat dalam ingatan saya. Katendrecht tidak langsung memperlihatkan masa lalunya. Kita harus melihatnya dua kali.
Dan terkadang, bagian paling menarik dari sebuah kota adalah bagian yang masih bersembunyi tepat di depan mata.
KONTRIBUTOR / PENULIS CERITA
DETI LUCARA
WWC-26-000010Yogyakarta, Indonesia
Travel writer and founder of Where We Crossed, documenting places, people, and stories through slow travel.
KOMENTAR & DISKUSI
0 KomentarINGIN BERGABUNG DALAM DISKUSI?
Masuk dengan akun member Anda untuk menulis tanggapan pada arsip sejarah ini.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama membagikan refleksi Anda.