STORIES > INDONESIA > YOGYAKARTA > ARTICLE
GUNUNG MERAPI DAN MORALITAS JAWA
Peran Gunung Merapi sebagai guru spiritual Yogyakarta, jangkar Sumbu Filosofi, dan penuntun utama moralitas masyarakat Jawa.
Lelaki tua itu tidak pernah melihat awan panas sebagai monster yang membawa maut. Bagi Mas Asih, gulungan abu abu-abu yang membumbung tinggi dari puncak Gunung Merapi—yang oleh media massa dijuluki wedhus gembel karena bentuknya menyerupai bulu domba—hanyalah cara gunung menyapu halaman rumahnya sendiri.
"Kalau rumahmu kotor, kamu sapu, kan?" katanya santai sambil menyulut rokok klobot. Asap tipis mengudara, menyatu dengan kabut yang mulai merayap di Dusun Kinahrejo, lereng selatan Merapi. "Abu itu bukan sampah. Abu itu cara Merapi membagi pupuk paling subur untuk anak-cucunya sepuluh tahun dari sekarang."
Saya duduk di serambi rumah sederhananya. Di dunia modern yang terobsesi dengan jaminan asuransi, bangunan tahan gempa, dan aplikasi prediksi cuaca, cara pandang ini terasa hampis gila. Kita diajarkan untuk takut pada risiko dan berlari sekencang-kencangnya saat bumi bergetar. Namun di sini, 15 kilometer dari kawah yang tak pernah benar-benar tidur, kematian dan kesuburan tidak berseberangan. Mereka adalah sepasang kekasih yang berjalan bergandengan tangan.
Merapi tidak hanya membentang sebagai pasak geologi di tengah Pulau Jawa. Ia adalah penulis utama kode moral, penentu kompas navigasi sosial, dan guru spiritual bagi masyarakat Yogyakarta.
Sumbu Filosofi: Mahakarya Geometris Sri Sultan Hamengku Buwono I
Untuk memahami Yogyakarta, Anda harus ditarik oleh sebuah garis lurus sepanjang 15 kilometer yang membelah kota dari utara ke selatan. Ini bukan kebetulan tata kota modern, melainkan Sumbu Filosofi (The Philosophical Axis of Yogyakarta), sebuah konsep kosmologi jenius yang digagas oleh pendiri Kesultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I, pada tahun 1755.
Dalam rancangan Pangeran Mangkubumi (gelar HB I sebelum bertahta), kota ini dibangun di atas garis imajiner yang menghubungkan tiga titik spiritual utama: Gunung Merapi di ujung utara, Kraton di tengah, dan Laut Selatan (Pesisir Parangkusumo) di ujung selatan.
Merapi melambangkan elemen api, spirit maskulin (Purusa), dan simbol asal-usul kehidupan (Hargo Dumadi). Laut Selatan melambangkan elemen air, spirit feminin (Prakriti), dan tempat kembali. Sementara Kraton yang dihuni Sultan berada di tengah-tengah sebagai pengimbang harmonis antara dunia fana dan anasir adikodrati.
Garis lurus ini melambangkan perjalanan spiritual manusia Jawa: Sangkan Paraning Dumadi—darimana manusia berasal dan ke mana manusia akan kembali. Jalur dari arah selatan menuju istana menggambarkan proses pembuahan dan kelahiran (Panggung Krapyak ke Kraton), sedangkan jalur dari utara ke istana menggambarkan perjalanan manusia kembali menuju Sang Pencipta dengan membersihkan hawa nafsu.
Bagi warga Yogyakarta, keberadaan Merapi di ujung garis sakral ini membuat gunung tersebut tidak pernah dipandang sebagai objek asing di luar kota. Merapi adalah hulu dari kehidupan mereka.
Hilangnya 'Kanan-Kiri': Navigasi Mata Angin dan Kompas Batin
Ketertautan batin masyarakat Jogja dengan Merapi melahirkan sebuah fenomena kebudayaan yang unik sekaligus membingungkan bagi para pendatang atau wisatawan luar Jawa: sistem navigasi berbasis mata angin.
Jika Anda tersesat di Jakarta, Bandung, atau Medan dan bertanya arah jalan kepada warga lokal, mereka akan menjawab: "Nanti di perempatan kamu belok kanan, lalu ketemu minimarket belok kiri."
Namun di Yogyakarta, petunjuk jalan seperti itu hampir tidak berlaku. Warga lokal akan berkata dengan santai: "Nanti di perempatan kamu jalan terus ke utara. Pas ada bangjo (lampu merah), kamu belok ke timur kira-kira 100 meter, rumahnya ada di sebelah selatan jalan."
Navigasi ini tidak bergantung pada posisi badan Anda, melainkan pada kiblat geologis abadi. Gunung Merapi adalah patokan mutlak arah Utara (Ngalor), sementara Laut Selatan adalah kiblat mutlak arah Selatan (Ngidul). Barat (Ngetan) dan Timur (Ngulon) disesuaikan dengan posisi tersebut. Bahkan seorang anak kecil di Jogja sudah dilatih untuk selalu tahu di mana posisi Merapi berada, meski dalam keadaan tertutup bangunan tinggi atau malam yang gelap gulita.
Dalam konteks kebudayaan Jawa, kehilangan arah mata angin bukan sekadar masalah teknis tersesat di jalan. Ini adalah metafora moral. Ada ungkapan populer dalam bahasa Jawa: "Kowe ki lakune wis ra cetha, ra ngerti ngalor-ngidul" (Langkahmu sudah tidak jelas, tidak tahu utara dan selatan). Seseorang yang kehilangan etika, terombang-ambing oleh kebingungan moral, atau lupa akan asal-usulnya, dikatakan telah kehilangan arah Ngalor-Ngidul. Merapi adalah pengingat abadi agar masyarakatnya tidak kehilangan kompas batin.
Mitologi, Tembang, dan Bayangan Merapi dalam Literatur Jawa
Hubungan harmoni ini telah terpatri jauh sebelum teknologi seismograf diciptakan. Dalam naskah-naskah kuno manuskrip daun lontar dan serat istana—seperti Serat Centhini dan Babad Tanah Jawa—Merapi tidak pernah digambarkan sebagai entitas yang jahat.
Dalam mitologi pewayangan dan cerita rakyat Jawa, kawasan gunung ini konon diciptakan dari pemindahan Gunung Jamurdipa oleh para dewa untuk menyeimbangkan Pulau Jawa agar tidak miring. Di balik kawahnya yang membara, diyakini ada struktur 'Kerajaan Gaib' yang dipimpin oleh tokoh-tokoh pelindung seperti Eyang Merapi, Kyai Petruk, dan Nyai Gadung Melati yang bertugas menjaga kelestarian vegetasi dan pasokan angin.
Bahkan dalam Dolanan Bocah (permainan tradisional anak Jawa), jejak penghormatan pada Merapi terselip dalam lagu-lagu lisan yang dinyanyikan saat terang bulan. Anak-anak kecil menyanyikan tembang sederhana yang mengajarkan mereka untuk menaruh rasa hormat pada bisikan angin dan getaran tanah dari utara, mengondisikan mental mereka sejak dini agar tidak mengutuk alam ketika ia bergolak.
Dalam tembang Macapat, khususnya bait-bait Sinom atau Pangkur yang sering disenandungkan para tetua desa, Gunung Merapi digambarkan sebagai sosok guru yang tegas:
Yen Merapi wis mepet janji," (Jika Merapi telah mendekati janjinya,)
"Lahar dingin mili ing kali," (Lahar dingin mengalir di sungai,)
"Wong Jawa kudu eling marang Gusti," (Orang Jawa harus ingat pada Tuhan,)
"Ojo jumawa ing bumi iki." (Jangan sombong di atas bumi ini.)
Tragedi 2010: Pelajaran Pahit di Atas Tanah yang Terbakar
Namun, keharmonisan kultural ini pernah diuji pada titik paling kelam dalam sejarah modern Yogyakarta: Erupsi Besar Oktober–November 2010.
Sebelum 2010, masyarakat lereng Merapi terbiasa dengan karakteristik erupsi 'efusif'—yaitu pertumbuhan kubah lava yang perlahan lalu runtuh membentuk awan panas dengan jarak luncur yang relatif terukur (sekitar 4-8 km). Mereka merasa telah mengenali pola sang gunung. Mbah Maridjan, sang juru kunci legendaris saat itu, menjadi simbol daya tahan lokal yang enggan mengungsi karena merasa belum menerima 'bisikan' atau tanda alam yang mewajibkannya turun.
Namun, Merapi pada tahun 2010 memutuskan untuk mengubah aturan main secara drastis. Erupsi itu bersifat 'eksplosif'—terbesar dalam 100 tahun terakhir.
Pada malam kelam tanggal 26 Oktober 2010, awan panas berkecepatan lebih dari 300 kilometer per jam dengan suhu mencapai 600 derajat Celsius menerjang Dusun Kinahrejo. Mbah Maridjan gugur dalam posisi bersujud di dalam rumahnya, bersama puluhan warga yang bertahan. Tidak berhenti di situ, pada puncak letusan tanggal 5 November 2010, zona bahaya terpaksa diperluas hingga radius 20 kilometer dari puncak. Kota Yogyakarta diselimuti hujan abu pekat yang melumpuhkan aktivitas dan mengubah siang menjadi malam. Lebih dari 350 nyawa melayang, dan ratusan ribu jiwa harus mengungsi.
Itu adalah tragedi kemanusiaan yang sangat memukul batin masyarakat Jawa. Kebanggamaan atas ilmu titen (membaca tanda alam tradisional) seolah remuk dihantam ledakan magma yang tak terprediksi.
"Tahun 2010 adalah tamparan keras bagi kami semua," kenang Mas Asih, mata bapak ini menerawang jauh. Ayahnya wafat dalam peristiwa tersebut, dan ia tiba-tiba dipundaki tanggung jawab besar sebagai pengganti sang juru kunci. "Kami sadar, menyintai Merapi bukan berarti merasa lebih tahu dari gunung itu sendiri. Mbah Maridjan menunjukkan kesetiaan tugasnya, tapi pelajaran bagi kami yang hidup adalah: sains dan adat harus berjalan berdampingan, bukan saling menantang."
Pembelajaran Mitigasi Modern: Sinergi BPPTKG dan Kesiapsiagaan Warga
Tragedi 2010 menjadi titik balik dramatis dalam sejarah manajemen bencana di Indonesia. Sejak hari itu, cara pandang mitigasi di lereng Merapi dirombak total melalui sinergi erat antara teknologi canggih dan kearifan lokal.
Di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, dinamika Merapi kini dibaca melalui ratusan sensor presisi tinggi. Seismometer terpasang di pelataran kawah, kamera termal memantau pertumbuhan kubah lava 24 jam, instrumen GPS dan tiltmeter mengukur deformasi (pembengkakan tubuh gunung) hingga skala milimeter, dan drone khusus diterbangkan secara berkala untuk memetakan volume material vulkanik.
Namun, kecanggihan teknologi ini tidak lagi diisolasikan di dalam laboratorium. BPPTKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) membangun sistem yang menyatu langsung dengan nadi kehidupan warga lokal:
Sistem Warga Bersaudara (Sister Village): Desa-desa di kawasan rawan bencana (KRB III) di lereng atas dijodohkan secara permanen dengan desa-desa di kawasan aman di lereng bawah. Jika Merapi naik status menjadi 'Awas', warga Dusun Glagaharjo sudah tahu persis ke rumah siapa di Desa Sinduharjo mereka harus mengungsi. Jalur evakuasi, logistik, dan fasilitas ternak sudah ditata sebelum bencana terjadi.
Pos Jaga Komunitas & Radio Komunikasi: Warga lokal membentuk kelompok relawan seperti Jaringan Informasi Lingkungan (JALIN) Merapi. Setiap Pos Pengamatan BPPTKG terhubung langsung via radio VHF/UHF dengan HT milik warga desa, peternak, dan sopir truk pasir. Data ilmiah ilmiah seperti "frekuensi gempa fase banyak meningkat" diterjemahkan secara real-time menjadi imbauan praktis di lapangan.
Akomodasi Budaya dalam Mitigasi: Pihak otoritas sains kini merangkul figur adat. Ketika BPPTKG mengeluarkan rekomendasi batas aman 5 kilometer, Mas Asih sebagai Juru Kunci akan langsung memperkuat imbauan tersebut kepada warga adat: "Sains sudah memberi tanda, Merapi sedang punya hajat. Mari kita beri ruang bagi gunung untuk berbenah."
Hasilnya sangat nyata. Ketika Merapi kembali mengalami fase erupsi panjang sejak tahun 2018 hingga sekarang (termasuk erupsi efusif kubah lava 2021-2023), tidak ada korban jiwa dari masyarakat setempat. Warga mengungsi dengan tertib tanpa kepanikan masal. Mereka bergerak bukan karena takut, melainkan karena paham.
Labuhan Merapi: Ritual Pengendalian Ego Manusia
Salah satu momen paling krusial dalam menjaga keharmonisan kosmologis ini adalah pelaksanaan upacara Labuhan Merapi.
Diadakan setiap tahun sekali pada tanggal 30 Rejeb berdasarkan kalender Jawa (bertepatan dengan peringatan Uji Kasepuhan atau kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono), ritual ini dipimpin langsung oleh Juru Kunci atas titah resmi Kraton Yogyakarta.
Pagi-pagi sekali, iring-iringan abdi dalem Kraton mengenakan pakaian adat pranakan berbaris berjalan kaki menembus hutan lereng Merapi menuju Bangsal Sri Manganti—sebuah pos ritual di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Mereka memikul jodang (kotak kayu) berisi Ubarampe (perlengkapan ritual) yang diserahkan langsung oleh Sultan dari Istana.
- Potongan Kuku & Hair (Lorodan)
- Kain Banguntulak & Moriputih
Ubarampe tersebut meliputi:
Kain Banguntulak (kain biru tua bernuansa spiritual sebagai penolak bala).
Pakaian bekas milik Sultan (Uwet).
Potongan kuku dan rambut Sultan (Lorodan).
Wangi-wangian, kembang setaman, dan makanan sesaji (Pahargyan).
Setelah doa-doa keselamatan lintas keyakinan dipanjatkan—menggabungkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan mantra-mantra Jawa kuno—benda-benda ritual tersebut dikubur atau dilepaskan di bumi Merapi.
Bagi mata turis yang awam, Labuhan sering disalahartikan sebagai praktik memberi makan gunung. Namun bagi masyarakat Jawa, ritual ini memiliki makna psikologis dan politik-ekologis yang sangat mendalam.
Dengan menyerahkan benda-benda paling personal milik sang Raja—simbol dari pemegang kekuasaan politik dan ekonomi tertinggi di Jogja—Kraton sedang melakukan tindakan penyucian ego. Ini adalah pesan simbolis bahwa di hadapan keagungan Allah dan kekuatan alam semesta, takhta seorang raja, harta, dan kesombongan manusia tidak ada artinya.
Labuhan adalah seremoni tahunan untuk menundukkan kepala. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak boleh menguasai alam secara serakah, melainkan harus siap membaginya dengan entitas lain.
Menyerap Pelajaran dari Sang Guru Agung
Sore hari mulai membayang di atas lereng selatan. Puncak Gunung Merapi yang tajam perlahan ditelan oleh gulungan kabut tebal, menyembunyikan asap solfatara tipis yang terus membumbung dari kawahnya. Kota Yogyakarta di bawah sana mulai menyalakan lampu-lampu jalanan. Deru kendaraan meraung di jalan protokol, anak-anak muda memenuhi kafe-kafe trendi, dan aktivitas ekonomi bergerak tanpa henti.
Namun di bawah gemerlap Kota Gudeg yang selalu tampak ramah dan hangat ini, ada ritme jantung raksasa yang terus berdetak konstan 15 kilometer di utara.
Masyarakat Yogyakarta tidak pernah benar-benar melupakan Merapi. Gunung itu hadir dalam setiap tarikan napas kebudayaan mereka: dalam pola ukiran relief bangunan rumah warga, dalam gerakan tarian sakral Bedhaya Ketawang yang dipentaskan di dalam Istana, dalam bait tembang karawitan, hingga dalam tata cara warga bertegur sapa di pinggir jalan dengan kelembutan yang menyembunyikan daya tahan sekeras baja.
Erupsi berulang yang dialami Merapi telah mendidik warga Jogja untuk memiliki daya lenting (resilience) yang luar biasa. Mereka adalah masyarakat yang telah berkali-kali kehilangan rumah, hewan ternak, dan sawah, namun selalu berhasil bangkit kembali membangun kehidupan baru di atas abu vulkanik yang masih hangat.
Mereka telah belajar sebuah rahasia kehidupan yang jarang dipahami oleh manusia modern: bahwa rasa sakit dan keberkahan, kematian dan kesuburan, adalah bagian dari satu siklus utuh yang harus diterima dengan ikhlas.
Sebelum pamit meninggalkan Kinahrejo, saya mengajukan satu pertanyaan terakhir kepada Mas Asih: "Apakah Anda tidak pernah merasa takut jika suatu hari Merapi meletus lebih dahsyat lagi?"
Beliau tersenyum tipis, merapikan letak lipatan blangkon Jawa di kepalanya yang mulai memutih. Matanya menatap lembut ke arah kabut yang menutup puncak gunung.
"Takut itu muncul kalau kita merasa memiliki," jawabnya pelan, dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa yang kental. "Tanah ini milik Gusti Allah. Merapi ini alat-Nya untuk menata bumi. Kita ini di sini cuma numpang ngiyup—sekadar berteduh sebentar dari hujan. Kalau yang punya rumah mau membersihkan atau menata ulang perabotannya, kenapa kita yang cuma numpang harus marah?"
Saya berjalan turun menelusuri jalanan berliku meninggalkan lereng Merapi dengan satu pemahaman baru. Gunung ini tidak pernah berniat menghancurkan. Ia hanya sedang mengajar.
Di tengah dunia modern yang semakin pongah, serakah, dan tergesa-gesa, Merapi berdiri kokoh di ujung Sumbu Filosofi sebagai guru moral abadi. Ia membisikkan pesan purba yang sangat jernih kepada siapa saja yang mau mendengarkan: ketahuilah batasmu, hormati alammu, rendahkan egomu, dan selalu ingatlah ke mana arah langkahmu akan berpulang.
KONTRIBUTOR / PENULIS CERITA
DETI LUCARA
WWC-26-000010Yogyakarta, Indonesia
Travel writer and founder of Where We Crossed, documenting places, people, and stories through slow travel.
KOMENTAR & DISKUSI
0 KomentarINGIN BERGABUNG DALAM DISKUSI?
Masuk dengan akun member Anda untuk menulis tanggapan pada arsip sejarah ini.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama membagikan refleksi Anda.