STORIES > INDONESIA > YOGYAKARTA > ARTICLE
YOGYAKARTA: AKAR DAN RASA MEMILIKI
Kisah tentang kota kelahiran yang membentuk diriku: Yogyakarta, sebuah kota tempat kerajaan-kerajaan kuno, tradisi kraton, perlawanan, dan revolusi telah meninggalkan jejak dalam kehidupan sehari-hari. Di balik kehangatan lembut Jogja, tersimpan sebuah tempat yang dibentuk oleh berbagai kontras — dari Kraton dan Kauman hingga kampung-kampung dan joglo dengan alunan gamelan, tempat tradisi yang mengakar kuat hidup berdampingan dengan semangat ketangguhan yang tak pernah padam. Ini adalah sebuah penelusuran terhadap lapisan-lapisan yang tersembunyi di balik kota yang kukenal, tempat kelembutan dan perlawanan, sejarah dan keseharian, sejak dulu selalu hidup berdampingan.
Aku tumbuh besar di Yogyakarta, atau Jogja, dan kota ini selalu menjadi rumah bagiku. Tapi aku juga sudah berkali-kali meninggalkan kota ini.
Aku pernah tinggal di kota-kota lain di Indonesia, bepergian ke luar negeri, dan menghabiskan cukup banyak waktu di tempat-tempat yang asing hingga aku belajar bahwa dunia jauh lebih luas daripada jalan-jalan kampung tempatku tumbuh besar. Aku pernah tidur di kamar-kamar di mana aku tak memahami bahasa yang terdengar dari balik jendela, tersesat mencari jalan di stasiun-stasiun kereta yang asing, dan belajar menjadikan tempat asing sebagai rumah sementara.
Namun, setiap kali kembali ke Jogja, ada sesuatu dalam diriku yang menjadi lebih tenang.
Jalan-jalannya terasa akrab tanpa menuntut apa pun dariku. Suara motor yang melintas, aroma makanan dari warung di sudut kampung, kelembutan bahasa Jawa, bahkan cara seseorang bertanya santai, “Badhe tindak pundi?” — mau pergi ke mana? — semuanya terasa seperti percakapan yang dimulai bertahun-tahun lalu dan terus berlanjut meski aku lama pergi.
Inilah hal yang aneh tentang rumah. Terkadang, kita baru memahami maknanya setelah meninggalkannya.
Tumbuh besar di Jogja, aku tak pernah menganggap kota ini begitu istimewa. Hal-hal yang dicari para pengunjung di sini hanyalah bagian dari lanskap masa kecilku. Adat Jawa bukanlah warisan budaya bagiku. Gamelan bukanlah pertunjukan budaya. Gamelan adalah sesuatu yang memang diharapkan keluargaku untuk kupelajari sejak kecil.

Ibuku mengajar karawitan untuk anak-anak
Dalam keluarga besarku, anak-anak secara turun-temurun belajar gamelan, nembang — menyanyi dalam bahasa Jawa — dan terkadang tari tradisional. Aku juga mempelajarinya, dan sampai sekarang aku masih bisa memainkan gamelan. Kakek dan nenekku memiliki satu set gamelan lengkap, dan joglo mereka cukup besar untuk menampung semua instrumen itu. Gamelan bukan sesuatu yang hanya kutemui di atas panggung. Gamelan ada di rumah, menjadi bagian dari kehidupan keluarga.
Di banyak kampung di Jogja, gamelan juga menjadi bagian dari kehidupan warga. Sebuah kampung bisa memiliki seperangkat gamelan sebagai milik bersama, dengan para penabuh yang berkumpul secara rutin untuk berlatih. Beberapa keluarga bahkan memiliki instrumen sendiri di rumah. Alunan gamelan bisa terdengar dari kejauhan, mengalir di antara rumah-rumah, tanpa kita tahu persis dari mana asalnya.
Baru setelah bepergian ke tempat lain, aku mulai menyadari betapa tidak biasanya hal itu.
Dan dari situlah seharusnya aku mulai bercerita tentang Jogja: bukan dari kraton, atau bahkan candi-candinya, melainkan dari gagasan bahwa di sini, sejarah jarang menjadi sesuatu yang disimpan di balik kaca. Sejarah adalah sesuatu yang terus dijalankan oleh masyarakat dari generasi ke generasi.
Kota yang Lebih Tua dari Dirinya

Kompleks Candi Prambanan
Sekilas, Yogyakarta tampak seperti kota dari abad ke-18: Keraton, poros Malioboro, kampung-kampung tua, tradisi kerajaan, dan arsitektur Kesultanan.
Namun, lanskap di sekitarnya jauh lebih tua.
Berkendara ke arah timur, kita akan menjumpai Prambanan, kompleks candi Hindu besar dari abad ke-9, dengan Sewu, salah satu kompleks candi Buddha terbesar di Indonesia, berdiri di sebelahnya. Lebih jauh ke barat terdapat Borobudur. Bersama-sama, tempat-tempat ini mengingatkan kita bahwa peradaban di sekitar Yogyakarta saat ini telah berkembang dengan sangat maju berabad-abad sebelum kota modern ini ada.
Bahkan filosofi Yogyakarta masa kini memiliki akar yang melampaui Kesultanan. UNESCO menggambarkan tradisi kosmologis kota ini sebagai hasil dari interaksi berabad-abad antara kepercayaan asli Jawa, Hindu, Buddha, Islam Sufi, dan kemudian pengaruh Barat.
Itulah mengapa menurutku kata “warisan” terasa sedikit kurang tepat untuk menggambarkan Jogja. Kota ini tidak berdiri di atas satu sejarah. Kota ini berdiri di atas begitu banyak sejarah.
Sebuah Kerajaan yang Terbagi
Yogyakarta yang kukenal hari ini terbentuk pada tahun 1755, setelah Perjanjian Giyanti membagi Kerajaan Mataram antara Pangeran Mangkubumi, yang kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono I dan mendirikan Yogyakarta, dan Pakubuwono III, yang kratonnya tetap berada di Surakarta. VOC sangat terlibat dalam pergulatan politik yang melatarbelakangi pembagian tersebut.
Mudah untuk menceritakan kisah ini sebagai lahirnya dua kota kerajaan yang bertetangga — Jogja dan Solo — tetapi pembagian tersebut mengubah lebih dari sekadar peta politik. Yogyakarta dan Surakarta kemudian berkembang dengan tradisi dan identitas kraton yang berbeda, meskipun tetap berbagi akar budaya Jawa yang lebih dalam.
Di bawah kepemimpinan Hamengku Buwono I, Yogyakarta sengaja dibangun berdasarkan pandangan kosmologis. Porosnya menghubungkan Gunung Merapi di utara dengan Samudra Hindia di selatan, dengan Kraton sebagai pusatnya. Tugu, Malioboro, Beringharjo, Kraton, Masjid Gedhe, Tamansari, dan Panggung Krapyak menjadi bagian dari lanskap yang menggambarkan gagasan tentang hubungan antara manusia, alam, dan Yang Ilahi. UNESCO menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Dunia pada 2023.
Sebagai pelancong, kamu masih bisa berjalan mengikuti gagasan tersebut. Mulailah dari Tugu dan berjalan ke selatan menyusuri Malioboro. Lewati Pasar Beringharjo, lanjutkan menuju Kraton dan Kauman, lalu jelajahi Tamansari dan kampung-kampung di sekitarnya, alih-alih memperlakukan kompleks pemandian kerajaan ini sebagai monumen yang berdiri sendiri.
Landmark memang penting. Tapi ruang-ruang di antaranya adalah tempat di mana Jogja mulai terasa manusiawi.
Kota yang Lembut, Namun Melawan

Ilustrasi Perang Jawa (1825-1830)
Ada anggapan tentang budaya Jawa yang juga tumbuh bersamaku: bahwa konon orang Jawa itu alus — menghargai kehalusan, pengendalian diri, kesopanan, dan menghindari konflik terbuka.
Memang ada benarnya. Tetapi sejarah Jogja membuat anggapan itu menjadi lebih rumit.
Di Tegalrejo, Pangeran Diponegoro menghabiskan sebagian masa kecilnya dan kemudian menjadi salah satu tokoh terpenting dalam perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Ketika konflik meletus pada 1825, kediamannya diserang dan dibakar. Diponegoro melarikan diri bersama para pengikutnya dan menjadikan Selarong sebagai salah satu basis awal Perang Jawa, yang berlangsung hingga 1830.
Hari ini, kamu bisa mengunjungi bekas kediaman Tegalrejo yang berkaitan dengan Museum Monumen Pangeran Diponegoro. Berdiri di sana membuat kita memandang berbeda kota yang selama ini dianggap lembut.
Menjadi alus tidak pernah berarti pasif. Budaya Jawa mengembangkan cara-cara untuk mengendalikan amarah, menjaga hubungan, dan menghindari pertentangan yang tidak perlu. Namun, ketika sesuatu yang mendasar terancam — tanah, martabat, keyakinan, atau kemandirian politik — perlawanan bisa mengambil bentuk yang berbeda.
Sejarah Jogja penuh dengan ketegangan semacam itu.
Ketika Jogja Menjadi Rumah bagi Republik

Presiden Sukarno dan Sultan HB IX
Hampir seabad kemudian, kota ini menjadi pusat perlawanan dalam bentuk yang berbeda.
Setelah Indonesia merdeka, ibu kota Republik dipindahkan ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946. Yogyakarta tetap menjadi ibu kota hingga Desember 1949, sekaligus menjadi pusat politik dan pemerintahan sebuah republik muda yang sedang berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya.
Gedung Agung masih berdiri di dekat Malioboro. Kraton Jogja mendukung Republik sepenuhnya, sementara setelah Belanda melancarkan Agresi Militer II pada Desember 1948 dan menangkap para pemimpin Republik, Jenderal Sudirman meninggalkan kota dan melanjutkan perjuangan melalui perang gerilya.
Ini adalah lapisan lain yang tidak sepenuhnya kupahami ketika masih kecil. Bagaimana kota yang terkenal dengan gamelan dan upacara sakral kerajaan ini juga menjadi kota jaringan politik, gerilyawan, dan perlawanan.
Generasi Perlawanan Berikutnya

Sultan HB X menyampaikan pidato kepada massa dalam Pisowanan Ageng Mei 1998
Semangat perlawanan tidak menghilang setelah kemerdekaan.
Yogyakarta berkembang menjadi kota pelajar yang penting, dan universitas-universitasnya melahirkan ruang politik yang baru. Di UGM, Gelanggang Mahasiswa menjadi salah satu pusat pengorganisasian mahasiswa selama gerakan Reformasi 1998. Demonstrasi semakin intens sepanjang musim itu, termasuk aksi-aksi di sekitar kampus UGM dan Gejayan.
Namun, gerakan ini bukan hanya milik mahasiswa. Pada 20 Mei 1998, Sultan Hamengku Buwono X menggelar Pisowanan Ageng di Kraton, yang dihadiri ratusan ribu orang. Ia secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap gerakan Reformasi, mengubah tradisi lama ketika seorang penguasa bertemu rakyatnya menjadi ungkapan kuat atas perubahan politik.
Bagian sejarah ini terasa personal bagiku. Kedua kakakku termasuk di antara mahasiswa yang ikut dalam gerakan tersebut. Jadi ketika memikirkan 1998, ini bukan sekadar sesuatu yang kupelajari kemudian dari buku sejarah. Ia juga menjadi bagian dari ingatan keluargaku — sebuah cerita generasi dari masa itu, di mana ketidakpastian, kemarahan, dan perasaan bahwa ada sesuatu dari negeri ini yang harus berubah.
Rasanya aneh menempatkan semua itu berdampingan dengan Jogja yang kukenal sejak kecil: latihan gamelan, upacara tradisional, nembang, dan tata krama orang-orang yang lebih tua. Namun, justru di situlah letak kontradiksinya. Kota yang sama bisa melahirkan orang-orang yang menunduk hormat di hadapan orang yang lebih tua, kemudian turun ke jalan menuntut perubahan politik — dan pada 1998, bahkan Kraton pun menjadi bagian dari gerakan tersebut.
Belajar Menjadi Alus
Gagasan Jawa seperti tepa selira — mempertimbangkan bagaimana tindakan kita berdampak pada orang lain — dan rukun, cita-cita tentang keharmonisan hidup bersama, masih penting dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula gotong royong, dorongan untuk bekerja bersama demi kepentingan masyarakat.
Nilai-nilai ini tentu tidak perlu diromantisasi. Jogja bukan tempat yang selalu harmonis. Ada ketimpangan, konflik, perbedaan politik, dan berbagai persoalan yang lazim muncul di kota yang terus berkembang.

Rewang, warga berkumpul dan memasak bersama untuk hajatan
Namun, naluri untuk hidup bersama itu tetap ada. Tetangga membantu menyiapkan makanan untuk pernikahan. Orang-orang berkumpul ketika seseorang meninggal. Warga mengerjakan sebuah kegiatan kampung bersama-sama. Orang yang lebih tua disapa dengan hormat. Seseorang memberi petunjuk kepada pelancong yang tersesat dengan kesabaran sedemikian rupa hingga kamu bertanya-tanya apakah mereka sebenarnya akan mengantarmu sampai ke sana.
Keramahan Jogja jarang terasa dibuat-buat. Ia biasanya hadir dengan tenang. Dan dalam ketenangan itu, ada kekuatan juga.
Kota yang Memberi Ruang

Pameran seni kontemporer tahunan ArtJog | sumber: artjog.co.id
Dengan segala akarnya yang kuat, Yogyakarta masih memiliki ruang bagi mereka yang datang dari tempat lain.
Seniman Belanda Mella Jaarsma tiba di Indonesia pada 1980-an dan telah tinggal serta berkarya di Yogyakarta sejak 1984. Ia belajar di ISI dan kemudian ikut mendirikan Cemeti Gallery, yang berkembang menjadi salah satu ruang penting bagi seni kontemporer di kota ini.
Seniman, penulis, mahasiswa, dan pelancong terus berdatangan karena Jogja menawarkan sesuatu yang tidak biasa: tradisi tanpa menuntut semua orang untuk tetap menjadi tradisional.
Di sini, kamu bisa mempelajari filsafat Jawa sekaligus membuat karya seni eksperimental. Kamu bisa tinggal di dekat Kraton dan menghabiskan malam di galeri-galeri kontemporer. Kamu bisa datang dari negara lain dan, setelah cukup lama, menjadi bagian dari cerita kota ini.
Itulah mengapa bagiku, kota ini selalu terasa lebih luas daripada ukuran fisiknya. Ia memiliki akar, tetapi juga memberi ruang.
Tempat yang Bisa Kamu Tinggalkan, Namun Tetap Menjadi Bagian Darimu
Ketika tumbuh di suatu tempat, kita biasanya lebih cepat menyadari apa yang berubah daripada apa yang bertahan. Kita mengeluhkan kemacetan, memperhatikan kafe dan bangunan baru, dan masih ingat toko yang dulu berdiri di sudut jalan tertentu.
Lalu kita pergi.
Tiba-tiba, hal-hal yang paling kecil justru menjadi berharga: suara seseorang berbicara dalam bahasa Jawa, citarasa gudeg, seorang tua yang mengucapkan monggo, cahaya sore di dinding tua, suara gamelan yang terdengar lembut dari kejauhan di sebuah kampung. Semua itu menjadi penanda, yang memberi tahu kita di mana kita berada.
Menurutku, mungkin itulah akar yang sebenarnya. Bukan sebuah keharusan untuk tetap tinggal di satu tempat, melainkan kumpulan kenangan yang mampu menuntun kita untuk kembali ke jati diri kita.
Aku sudah bepergian cukup jauh untuk tahu bahwa ada begitu banyak kota indah di dunia. Kota-kota itu bergerak lebih cepat, lebih megah, atau lebih canggih. Tetapi keindahan tidak selalu berarti rasa memiliki.
Yogyakarta tidak pernah perlu membuatku terkesan. Kota ini sudah mengenalku. Keluargaku masih di sini. Ibuku masih mengajar. Di suatu tempat, anak-anak masih belajar gamelan, nembang, tari, dan tata krama dari orang-orang yang lebih tua. Di tempat lain, mahasiswa masih berdebat tentang politik, seniman sedang menciptakan sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya, dan sebuah kampung berkumpul mengelilingi seperangkat gamelan yang menjadi milik bersama.
Itulah Jogja yang kukenal: kota dengan kraton dan demonstrasi, ritual dan revolusi, pengendalian diri dan perlawanan. Kota yang pernah terpecah, diduduki, diperebutkan, dan dibentuk kembali, namun tetap memberi ruang bagi orang-orang untuk menyebutnya rumah.
Mungkin itu sebabnya, setelah melewati begitu banyak tempat dalam perjalanan hidupku, Jogja tetap terasa paling seperti rumah. Bukan karena kota ini tidak berubah, tetapi karena di balik semua lapisannya, aku masih bisa mengenali tempat yang mengajariku siapa diriku.
KONTRIBUTOR / PENULIS CERITA
DETI LUCARA
WWC-26-000010Yogyakarta, Indonesia
Travel writer and founder of Where We Crossed, documenting places, people, and stories through slow travel.
KOMENTAR & DISKUSI
0 KomentarINGIN BERGABUNG DALAM DISKUSI?
Masuk dengan akun member Anda untuk menulis tanggapan pada arsip sejarah ini.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama membagikan refleksi Anda.